Papan tulis itu penuh oleh angka-angka yang tidak dimengerti Hanin, suara “tegas” dari goresan spidol hitam milik guru itu memenuhi ruang kelas. Bosan. Terlebih lagi.. bel istirahat sudah berbunyi hampir seperempat jam yang lalu, namun guru itu masih tetap berbicara layaknya tak ada hari esok.

“Mau ke mana, Nin?”

Seru Nica, selaku teman sebangku Hanin yang heran melihat gadis itu terburu-buru bangkit dari bangkunya setelah Pak Bobby hengkang setelah mengajar kelasnya.

“Ke perpus. Gue udah janjian sama yang punya notebook kemarin. Lupa bilang kalo matpel Pak Bobby suka dilebihin jamnya.”

Sahut Hanin yang tampaknya mulai cemas memikirkan kakak kelasnya yang mungkin saja sudah menunggunya di perpus selama hampir 15 menit penuh.

“Okay then. Goodluck Ninn!”

Balas Nica, sembari melihat punggung temannya melangkah dengan cepat.

Hanin menatap layar ponselnya yang mati, tak sempat ia isi karena terlalu lelah dengan ocehan guru tadi. Ia kembali mempercepat langkahnya. Sial, perpustakaan terasa sangat jauh dari kelasnya yang berada di ujung sekolah. Lalu, si pemilik buku itu.. akankah dia masih menunggu?


“MOJAAA LU DI MANA? gua sama Abun udah mau beres makan. Lu gak bakal makan dulu ke kantin?”

Ocehan Hazel dari balik telepon itu menjengkelkan menurut Moja.

“Duluan aja, Jel. Gua masih nunggu di perpus, belum datang orangnya.”

Jawab Moja singkat.